20.11.2011 | Reporter : Defri Yanto | Posted in
Bisnis,
Hot News,
Meranti
MERANTI (riaupeople) – Konversi minyak tanah ke gas elpiji yang bertujuan untuk membantu ekonomi masyarakat lemah tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Paling tidak ini terjadi di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti, dimana untuk isi ulang tabung gas 3 kilogram dijual dengan harga Rp25.000 hingga Rp30.000.
Tingginya harga isi ulang tabung elpiji itu membuat masyarakat Meranti, terutama yang berekonomi rendah menjerit. Untuk mendapatkan minyak tanah, selain susah harganya juga tidak murah. “ Mungkin ini bisa dikatakan harga tertinggi di Indonesia. Kenapa ini terjadi, karena ongkos angkut dan bongkar muat dibebankan ke masyarakat. Seharusnya pemerintah memberikan subsidi untuk distribusi,” ujar warga Selatpanjang, Sugeng kepada wartawan, Minggu (20/11/11).
Dikatakannya, kondisi yang ada itu seharusnya mendapat perhatian dari Pemkab Meranti. Salah satunya dengan melakukan pengawasan terhadap agen maupun distributor elpiji 3 kilogram yang ada di Meranti. “ Program konversi (pengalihan) dari minyak tanah ke gas tujuannya bagus. Namun karena ketidakmampuan pemerintah dalam mengawal program itu, maka menimbulkan persoalan baru. Pemerintah kita minta melakukan pengawasan secara ketat, agar agen dan toko-toko yang ada di pasaran tidak menjual dengan harga semaunya,” harap Sugeng.
Pihaknya juga mengingatkan semua pihak agar melakukan pengawasan agar tidak ada yang menjadi spekulan elpiji di Meranti. Jika itu terjadi, maka yang akan menjadi korbannya adalah masyarakat. Pasalnya, pengusaha nakal itu akan dengan mudah memainkan harga untuk mendapatkan keuntungan berlipat ganda. “ Di Kota Selatpanjang sendiri harga jual antara 25 hingga 27 ribu rupiah pertabung tiga kilo. Sementara di luar Selatpanjang harganya mencapai 30 ribu. Saya menilai pemerintah telah gagal membantu rakyat kecil dan menghemat anggaran melalui program konversi minyak tanah ke gas,” tegasnya.(*)