BENGKALIS (riaupeople) – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bengkalis menyesalkan aksi anarkhis yang dilakukan masyarakat saat menyerang areal PT Sumatera Riang Lestari (SRL) di Pulau Rupat. Pasalnya, tindakan pengrusakan sangat bertentangan dengan hukum dan aturan. Kendati begitu, anggota dewan akan menelusuri kembali pemicu persoalan hingga terjadinya pembakaran.
Ketua DPRD Bengkalis, Jamal Abdillah menyebutkan akan turun langsung ke lapangan guna mengetahui akar persoalan. Pihaknya mengaku terkejut karena tidak pernah menduga masyarakat Rupat akan melakukan tindakan seperti itu. ” Saya terkejut mendengar kejadian di Rupat. Dan kami akan turun ke TKP untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, termasuk yang menjadi tuntutan masyarakat di Pulau Rupat,” kata Jamal Abdillah.
Jamal menyebutkan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus pengrusakan itu kepada aparat kepolisian. Namun proses yang dilakukan harus tetap menjunjung tinggi azas praduga tidak bersalah. Tidak kalah pentingnya, apa yang menjadi pemicu persoalan juga harus diselidiki. “ Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Kita sepakat, hukum harus ditegakkan. Siapa saja yang melanggar hukum harus ditindak. Namun untuk kasus ini tentu harus diselidiki juga kenapa masyarakat berani bertindak seperti itu, ada apa dibalik emosi mereka,” harap Jamal Abdillah.
Pada sisi lain, Kapolres Bengkalis AKBP Toni Ariadi Effendi didampingi Kasat Reskrim AKP Arif Fajar, Kasat Intel AKP Yudi Falmi, Kapolsek Rupat dan Rupat Utara kabarnya sudah meninjau ke TKP. Namun belum diperoleh informasi terbaru pasca turunnya para petinggi polisi itu ke lokasi.
Diberitakan sebelumnya, sekitar tiga ratusan massa yang berasal dari sejumlah desa di Rupat mengamuk dan membakar berbagai fasilitas maupun peralatan milik PT Sumatera Riang Lestari. Massa awalnya sudah terkonsentrasi di desa Pergam dan Terkul. ” Saya mendapat informasi Kamis pagi. Ratusan massa bergerak menuju lokasi operasional PT SRL yang tersebar di beberapa desa di Pulau Rupat. Tapi sejauh ini apa motivasi atau tuntutan dari gerakan massa tersebut masih belum diketahui secara pasti,” ujar H Ismail, salah seorang pemuka masyarakat Rupat.
Manajemen PT SRL melalui siaran persnya yang disampaikan Humas, Abdul Hadi membenarkan adanya aksi anarkis massa tersebut. Disampaikannya, aksi kerusuhan massa mulai terjadi sekitar pukul 11.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB, yang dilakukan sekitar 300-an warga Pulau Rupat. ” Masyarakat memaksa meminta areal HTI perusahaan, sementara perusahaan tidak berwenang dan tidak berhak memindah tangankan areal tersebut kepada pihak lain. Untuk menghentikan kegiatanpun perusahaan tidak mungkin karena harus menyelesaikan RKT 2011. Apalagi ini sudah akhir tahun,” terang Abdul Hadi.(*)