“ Kades itu menyebutkan, biar tahu saja kalian semua, saya pastikan susah untuk menurunkan saya dari kepala desa. Saya punya banyak beking pejabat tinggi di Meranti. Kalau kalian bisa menurunkan saya dari jabatan sebagai kepala desa, akan saya minum air kencing kalian semua. Khususnya perangkat desa yang ada,”
Ramlan
Ketua BPD Teluk Ketapang
MERANTI (riaupeople) – Kepala Desa (Kades) Teluk Ketapang Kecamatan Merbau Kabupaten Kepulauan Meranti, Zawir menanggapi dingin desakan sejumlah masyarakat yang memintanya mundur. Malah Kades yang disebut-sebut masih keluarga bupati ini kabarnya balik menantang dengan menyebutkan akan meminum air kencing masyarakat jika dipecat oleh Bupati Meranti.
Ketua Badan Pemerintahan Desa (BPD) Teluk Ketapang, Ramlan didampingi sejumlah tokoh masyarakat mengakui adanya pernyataan Kades yang siap meminum air kencing masyarakat jika dirinya dipecat bupati dari jabatannya. Tidak hanya itu, dihadapan sejumlah perangkat desa dan tokoh masyarakat, oknum kades itu menyatakan dirinya dibacking oleh sejumlah pejabat di Meranti. “ Kades itu menyebutkan, biar tahu saja kalian semua, saya pastikan susah untuk menurunkan saya dari kepala desa. Saya punya banyak beking pejabat tinggi di Meranti. Kalau kalian bisa menurunkan saya dari jabatan sebagai kepala desa, akan saya minum air kencing kalian semua. Khususnya perangkat desa yang ada,” ujar Ramlan menirukan pernyataan Zawir dan dibenarkan oleh rekannya yang lain, Jum’at (21/10/11).
Desakan masyarakat Desa Teluk Ketapang agar bupati memberhentikan oknum Kades itu sempat ditindaklanjuti melalui hearing di DPRD Meranti beberapa waktu lalu. Sayangnya, hingga kini tidak ada tindak lanjut dari hearing yang dilakukan itu. Diduga inilah yang membuat oknum Kades makin besar kepala hingga keluar pernyataan tantangan siap meminum air kencing masyarakat itu. “ Tuntutan memecat kepala desa sebagaimana yang disampaikan masyarakat dan seluruh unsur BPD serta pemerintahan yang ada di desa itu juga disetujui oleh seluruh perangkat RT/RW, LKMD, tokoh masyarakat, tokoh agama dan tokoh pemuda. Ini dituangkan dalam beberapa kali rapat yang dilakukan,” ungkap Ramlan.
Menurut Ramlan, salah satu pemicu munculnya desakan pencopotan kepala desa itu terkait penyaluran dana ADD tahap pertama sebesar Rp480 juta. Hingga kini pertanggungjawaban penggunaan dana itu tidak pernah diterima. “ Sampai bulan Oktober 2011 ini, kami selaku pengurus BPD serta masyarakat tidak mengetahui kemana dana ADD tahap pertama senilai 480 juta itu disalurkan. Sampai saat ini kami tidak mendapatkan lampiran atau tembusan SPj terkait penggunaan dana itu,” paparnya.
Lebih lanjut dikatakan Ramlan, lebih ironis lagi, dana bantuan untuk usaha masyarakat desa yang telah disepakati bersama dalam rapat penggunaan dana ADD ternyata tidak direalisasikan. Belum lagi bantuan Dana Kesra untuk masyarakat Teluk Ketapang sebesar 45 juta rupiah. “ Berdasarkan data yang kita terima, bantuan Kesra itu hanya 27 juta rupiah yang disalurkan. Sementara sisanya kita tidak tahu entah digunakan kemana,” ujar Ramlan
Menyikapi persoalan ini, Kepala Dinas Pemerintahan Desa Kabupaten Kepulauan Meranti, Ihwani saat dihubungi melalui telpon selulernya mengaku tengah berada di Jakarta. Namun pihaknya menyebutkan sudah mendapatkan laporan tentang persoalan yang terjadi. Termasuk laporan dari masyarakat yang telah melakukan hearing dengan Komisi I DPRD Meranti. “ Sejauh ini kami akan terus menampung aspirasi masyarakat. Jika memang usulan (mencopot Kades Zawir) itu memungkinkan untuk di tindak lanjuti, kenapa tidak. Hanya saja tentu ada mekanisme yang harus kita ikuti. Dengan begitu tidak ada aturan yang kita langgar,” ujarnya.
Terkait adanya dugaan penyalahgunaan dana ADD, pihaknya menghimbau agar Kades yang ada di Meranti tidak terjebak dengan persoalan-persoalan hukum yang bisa merugikan diri sendiri. “ Karena ini baru sebatas dugaan, tentu harus ada pembuktian. Kalau terbukti ada penyimpangan, kita tentu sangat menyesalkan dan ini masuk ranah hukum. Kita himbau para Kades agar menjauhi hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri,” ujar Ihwani.
Sementara Camat Merbau, Duriat yang dihubungi berkali-kali melalui telpon selulernya tidak berhasil dikonfirmasi. Panggilan masuk pada telpon selulernya diabaikan dan tidak ada jawaban. Sedangkan Kades Zawir saat dihubungi langsung mematikan telpon selulernya.(nto)