” Saya nggak nyangka. Saya mengajak generasi muda untuk membuat perubahan. Kalau bukan kita siapa lagi,”
Khilda Baiti Rohmah
Mahasiswi Peduli Sampah
JAKARTA (riaupeople) – Khilda Baiti Rohmah (23) tidak pernah menduga kepeduliannya terhadap sampah bakal berbuah anugrah. Mahasiswi Teknik Lingkungan Universitas Pasundan ini terpilih sebagai pemenang favorit dalam anugerah Danamon Award 2011.
Khilda terpilih melalui voting online dan SMS yang dilakukan sejak 30 September hingga 30 Oktober 2011. Ia mendulang suara lebih dari 3.000 suara, sehingga dinobatkan menjadi pemenang favorit. ” Saya nggak nyangka. Saya mengajak generasi muda untuk membuat perubahan. Kalau bukan kita siapa lagi,” kata Khilda saat menerima penghargaan Danamon Award 2011 di Balai Kartini, Jumat, (4/11/11).
Kendati di awal “bersampah ria” pada 2007 lalu tidak ada yang mau ikut jejaknya, namun Khilda tidak patah semangat. Langkah awal dirinya mengajak para tukang sampah di lingkungannya untuk memilah sampah organik dan non organik. Tak hanya berhenti sampai di situ, Khilda menularkan semangatnya kepada warga sekitar untuk melakukan kegiatan pemilahan sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos dan non organik dibuat menjadi aneka kerajinan.
Berkat keuletan dan semangat yang tinggi, kini warga sadar sampah dan hasilnya dapat dinikmati. Saat ini, ia tengah mengembangkan penemuannya tentang pengolahan sampah sebagai energi alternatif pengganti minyak tanah.
Sementara Direktur Utama Bank Danamon, Henry Ho sebagaimana diberitakan vivanews.com dalam sambutannya mengatakan bahwa penghargaan Danamon Awards diberikan kepada masyarakat individu yang dapat memberikan manfaat kepada lingkungannya, khususnya untuk ekonomi kecil dan kewirausahaan. ” Dengan semangat bisa, kami fokus pada pemberdayaan ekonomi, bertepatan dengan ulang tahun Bank Danamon ke-55,” kata Henry Ho.
Dalam ajang ini beberapa juri yaitu Ade Suasmulyo, Bob Sadino, Sony Keraf, Kementerian Koperasi dan UKM, Tempo Media, dan Yayasan Danamon Peduli. Salah satu dari dewan juri, Sony Keraf, mengatakan orang-orang ini telah melakukan yang tidak hanya berguna bagi dirinya, tetapi juga lingkungannya. Total peserta yang terkumpul sebanyak 300 orang, lalu terpilih menjadi lima orang pemenang dan satu pemenang favorit.
Mereka adalah Karmono “Sang Penemu” yang berprofesi sebagai guru SD melakukan pelestarian tanaman buah belimbing dan jambu di Demak yang menjadi komoditas utama perkebunan di daerah itu. Kemsikidi, “Pemberdaya Wisata”, warga Dusun Krebet, Bantul, Yogyakarta yang mengajarkan batik kayu kepada para perajin di daerahnya.
Pemenang lainnya Nureini, “Pembina Istri Nelayan” asal Patingalong, Sulawesi Selatan yang mengajak istri nelayan mengolah ikan menjadi produk makanan olahan seperti abon. Terakhir, Putu Suryati, ”Pengubah Paradigma” yang memiliki keterbatasan fisik dengan cara menampung orang dengan kondisi yang sama untuk diberikan keterampilan mulai dari bahasa Inggris, komputer, kerajinan tangan dan kesenian.(fai)