Kaum Ibu Pendukung Istri Gubernur Riau Tolak Hasil Pemilu Kada Pekanbaru
Pekanbaru – Sekitar 500 orang ibu warga Pekanbaru berunjuk rasa di Kantor KPUD Pekanbaru. Mereka menolak hasil Pemilu Kada yang memenangkan pasangan Firdaus-Ayat dengan alasan banyaknya kecurangan yang terjadi dalam pelaksaan rangkaian kontestasi tersebut.
Massa pengunjuk rasa menamakan diri kelompok Forum Masyarakat Peduli Kota Pekanbaru. Aksi mereka melabrak Kantor KPUD Pekanbaru di Jl Sudirman, Pekanbaru, sempat membuat memacet lalu lintas.
Ratusan kaum hawa ini melakukan aksi demo setelah pihak KPUD Pekanbaru melakukan rapat pleno penghitungan suara di Hotel Ibis Pekanbaru. Para pendemo ini menolak hasil pelaksanaan Pemilu Kada pada 18 Mei 2011 lalu.
Di dalam orasinya, mereka menuding Walikota Pekanbaru, Herman Abdulla, sebagai dalang dari kekalahan Septina Priwati (istri Gubernur Riau, Rusli Zainal) yang berpasangan dengan Erizal Muluk. Erizal adalah kontestan incumbent Wakil Walikota.
“Herman Abdullah secara sistematis, terstruktural menggunakan jalur birokrasi untuk mendungkung pasangan Firdaus-Ayat. Herman juga telah mengintimidasi dengan mutasi pejabat di Pemkot Pekanbaru hingga lurah yang menolak untuk mendukung Firdaus-Ayat” demikian selebaran kertas yang dibagi-bagikan kepada warga yang melintas di sekitar kator KPUD Pekanbaru.
Mereka juga menuding adanya pengerahan massa dari luar kota Pekanbaru. Di samping itu banyaknya warga Pekanbaru yang tidak mendapat hak pilih saat pelaksanaan Pemilu Kada.
“Berbagai persoalan itu, kami mendesak agar KPUD Pekanbaru tidak menetapkan hasil penghitungan suara karena hasil pemilu diwanai kecurangan. Pemimpin yang dilahirkan dari kecurangan akan menghasilkan pemimpin yang curang dan pembohong,” demikian teriak mereka dalam aksi demonya.
Sementara, hasil rapat rekapitulasi KPUD Pekanbaru telah menetapkan Firdaus-Ayat sebagai pasangan Walikota terpilih. Saat digelar rapat pleno, pasangan Septina-Erizal tidak bersedia hadir di Hotel Ibis karena menolak penandatanganan berita acara hasil rekapitulasi tersebut. Sumber : DetikNews.com
———————————————————————————————————–
RiauTerkini.com
Unjukrasa seribuan orang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Demokrasi (FMPD) Kota Pekanbaru dan Himpunan Keluarga Rokanhulu (HKR) di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota dan kantor Walikota Pekanbaru tidak mendapat tanggapan. Tidak seorang pun pejabat dari instansi tersebut yang menerima massa demonstrasi.
Dari pantauan riauterkini, Selasa siang (24/5/11), massa yang berkumpul di depan Perpustakaan Soeman Hs setelah berorasi yang intinya menolak hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) , para pengunjukrasa akhirnya melakukan long march ke kantor Walikota dan KPU Kota.
Di kantor KPU Kota, para demonstran kembali berunjukrasa. Tuntutan mereka mendesak Ketua KPU Pekanbaru, Yusri Munaf untuk mundur dari jabatan, karena gagal menyelenggarakan Pemilukada yang jujur dan ditemukakan banyak kecurangan.
Salah satu kecurangan itu adalah keterlibatan Walikota Pekanbaru dalam memenangkan salah satu calon pasangan Walikota Pekanbaru, Firdaus-Ayat Cahyadi. Bahkan Koordinator Aksi HKR memperdengarkan rekaman suara Walikota Herman melalui loudspeaker. Isi rekaman itu sama dengan yang diperdengarkan tim Berseri beberapa waktu lalu.
Setelah hampir setengah jam berorasi, aksi demonstrasi ini tidak juga mendapatkan respon. Tak satupun pejabat KPU Kota yang menerima mereka. Aksi mereka ‘dihentikan’ oleh masuknya waktu Salat (ba’da) Asyar. Kebetulan kantor KPU Kota berada di depan Masjid Ar Rahman Pekanbaru.
Jurubicara massa HKR, Raden Ringgo Sukowati kepada wartawan, membantah aksinya itu merupakan kelompok dari tim Berseri yang kalah dalam Pemilukada Pekanbaru.
“Kita bukan dari Tim Berseri. Aksi ini adalah spontan yang telah melihat kecurangan Pemilukada Pekanbaru. Makanya kami meminta Pemilukada Pekanbaru ini diulang,” tukasnya.
Ringgo juga membantah, massa yang berunjukrasa itu merupakan massa ‘bayaran’ dari tim Berseri. “Abang-abang wartawan boleh tanya kepada ibu-ibu ini apakah aksi kita ini dibayar?” tanya sambil dijawab ibu-ibu yang ikut dalam unjukrasa itu dengan teriakan; “Tidak!”
Karena aksi mereka tidak mendapat tanggapan massa HKR ini lalu melanjutkan unjukrasa di depan pintu masuk kantor Walikota Pekanbaru. Di sini, aksi mereka pun ‘dicuek-in’ karena tidak satu pejabat pun yang menerima aspirasi mereka. Akhirnya aksi ini membubarkan diri dengan tertib.