Menuju Riau Sehat
Guna mendukung program menuju Riau sehat, pemerintah propinsi melalui Dinas Kesehatan Propinsi Riau mengaku siap memberikan dukungan penuh untuk pembangunan RSUD Pekanbaru. Apalagi, keberadaan RSUD Arifin Achmad Pekanbaru idealnya memang harus dibantu mengingat peningkatan jumlah pasien.
TINGKAT pertambahan penduduk yang cukup tinggi menuntut pelayanan medis yang optimal. Pelayanan tidak hanya dalam bentuk tenaga medis, namun juga menyangkut fasilitas serta sarana prasarana pendukung kesehatan itu sendiri. Saat ini RSUD Arifin Achmad yang dibangun Pemerintah Propinsi Riau di Kota Pekanbaru sudah menjadi rumah sakit rujukan provinsi. Ini jelas berdampak pada peningkatan jumlah pasien dan beban pelayanan.
RSUD Arifin Achmad diharapkan tidak menjadi Puskesmas Raksasa karena juga melayani penyakit-penyakit ringan. Dengan pertimbangan itu, keberadaan rumah sakit daerah masih sangat diperlukan di Kota Pekanbaru. Menyangkut eksistensi rumah sakit swasta yang cukup menjamur sebagai salah satu alternatif, setakad ini masyarakat masih terbentur biaya yang cukup tinggi. “Tidak semua masyarakat bisa ke rumah sakit swasta. Untuk itu, peran rumah sakit pemerintah harus dioptimalkan. Ini yang harus menjadi perhatian bersama, sehingga kita mendukung Pemko Pekanbaru yang akan membangun rumah sakit,” ungkap Gubernur Riau, HM Rusli Zainal melalui Kepala Dinas Kesehatan Riau beberapa waktu lalu.
Disamping memberikan perhatian tinggi bagi kesehatan secara umum, Pemerintah Ptropinsi Riau juga memberikan porsi perhatian yang tidak sedikit untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak. Saat ini Pemerintah Provinsi Riau sangat intens menggalakkan kesehatan ibu dan anak hingga pelosok daerah dan menjadikannya sebagai salah satu program prioritas menuju Riau Sehat.
Wakil Gubernur Riau, H R Mambang Mit kala menghadiri acara sosialisasi bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Linda Amalia Sari Gumelar baru-baru ini Hotel Aryaduta Pekanbaru mengatakan, saat ini angka kematian ibu dan anak di Riau masih tinggi. Karena itu, demi prioritas kesehatan ibu dan anak, Pemprov Riau bekerja sama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Riau melakukan kampanye hidup sehat khususnya untuk ibu dan anak. ” Harapan kita angka kematian ibu saat ini bisa ditekan sehingga Riau tidak termasuk provinsi yang memiliki angka kematian ibu yang tinggi di Indonesia,” ujar Mambang Mit.
Dijelaskan Mambang Mit, salah satu faktor yang berpengaruh dalam mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas adalah status kesehatan masyarakat terutama status gizi dalam keluarga adalah perempuan. Dimana kualitas SDM dewasa sangat tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan sejak dalam kandungan, bayi, anak dan remaja. Untuk mendapatkan status gizi keluarga yang baik diperlukan pengetahuan, kemampuan dan perilaku gizi yang baik dan benar bagi setiap anggota keluarga. Perilaku gizi yang baik dan benar adalah perilaku untuk mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan, baik macam maupun kualitasnya.
Sementara Ketua TP PKK Provinsi Riau, Dra Hj Septina Primawati Rusli MM mengatakan sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga merupakan cermin kekuatan masyarakat, bangsa dan negara. Kekuatan bangsa dan negara terletak pada ketahanan keluarga. ” Terkait hal ini, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas sebuah keluarga. Di antaranya melalui gerakan KB nasional,” sebut isteri Gubernur Riau ini.
Menurut Septina, ketahanan, kesejahteraan dan kualitas keluarga dengan jumlah anak sedikit akan lebih mudah ditingkatkan dibandingkan keluarga yang jumlah anaknya banyak. Dan semakin sulit lagi apabila keluarga yang banyak anak itu tergolong keluarga miskin.
Sehat secara umum biasa didefenisikan berkaitan dengan kesehatan jasmani. Pengkajian lebih dalam mengenai sehat, sebenarnya bisa dikenakan kepada beberapa kondisi. Merujuk pada defenisi WHO pada tahun 1975, sehat diartikan sebagai suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit baik fisik, mental, maupun sosial.
Namun seiring bergeraknya dinamika masyarakat, WHO pun mengartikan kesehatan dalam definisi terbarunya yaitu meliputi empat aspek sehat, yakni aspek fisik, mental, sosial, dan ekonomi. Pengartian baru tentang sehat tersebut lebih luas dan dinamis lagi, bahwa sehat tidak hanya dari aspek fisik, mental maupun sosial, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi. Manusia sehat haruslah produktif, mempunyai penghasilan dan menghasilkan sesuatu secara ekonomi.(*)